h1

Born (not) To Cook

October 25, 2006

Blog ini memang tidak ada hubungannya dengan cerita perjalanan ke tempat-tempat yang pernah saya kunjungi, tapi sekedar curhat sederhana dari hati yang paling dalam, pengalaman tinggal dirantau dengan pengalaman masa lalu yang minim tentang masak memasak (baca: ngurus rumah).

Jangan pernah berpikir bahwa memasak itu adalah pekerjaan yang ringan. Terutama menjadi juru masak bukan karena hobby atau karena profesi, tapi lebih banyak karena keharusan🙂 Yang artinya, kalau tidak masak yah tidak makan.

Bagi saya yang sejak kecil sampai umur 30 tahun di rumah jarang-jarang masak, karena mm.. Bunda tercinta selalu menghidangkan masakan yang super nikmat dan bukan rahasia lagi kalo di Jakarta, makan diluar, take away atau nunggu tukang sate lewat di depan rumah adalah biasa. Disini… uhuuuu mana ada tukang bubur ayam lewat setiap pagi. Atau tok tok tok… tukang bakso lewat!!! Jadilah kegiatan memasak yang tidak pernah saya lakukan harus mau tidak mau di jalanin – dan bagian dari kegiatan must-do sehari hari.

Dalam kegiatan wajib masak tahun pertama saya di Belanda, saya banyak menemukan beberapa kesulitan, yang pertama mengatur takaran bahan-bahan, kedua karena tidak kenal nama/jenis bumbu dlsb dlsb. Contoh: Lengkuas sama Laos itu bedanya apa??? Atau tangan penuh bercak akibat keciptraan minyak panas atau sudah tahu kalau oven itu panas. Sok kaya Xena – megang pirex tanpa perlindungan huahahaha.

Setelah lebih dari 5 tahun tinggal di Belanda, saya bisa membuktikan bahwa sebenarnya saya cuma males masak, bukan tidak bisa masak. sekali lagi: saya malas masak, bukan nggak bisa :D). Yang pasti, saya punya masakan-masakan andalan yang selalu di puji enak banget oleh teman-teman, keluarga dan terutama si abang🙂 Tapi kemampuan (keinginan memasak) saya sampai sekarang masih terbatas alias belum berencana untuk membuat kejutan untuk merubah status jadi pengusaha katering. Menu yang saya buat biasanya adalah hidangan sepinggan style – dan berusaha keras sehat, cepat, mudah dan kenyang. Dan muncul-lah hobby baru saya. Mengumpulkan resep masakan. Entah itu berupa buku masakan, majalah, internet atau lihat acara telivisi, yang pasti gambarnya mengundang air liur dan juga masaknya sebentar dan juga lagi gampang. Kebetulan, banyak sekali acara televisi yang menyiarkan acara masak memasak yang praktis Yang pasti tidak perlu belepetan, dan membutuhkan waktu lama dari mulai persiapan sampai siap santap.

Dengan berjalannya waktu, saya menyadari bahwa sebenarnya, memasak itu perlu juga feeling. Uuuh sekarang saya sudah bisa buat rendang enak (enggak perlu pake bodrex lagi), buat bolognase saus, chicken green curry, sop buntut, hache, zuurkool pokoknya boleh deh diajak tanding masak memasak huahahaha….. Moto memasak saya, Enak, sepraktis mungkin; bergizi…. maka cukup! Lain dengan si-Abang yang seneng masak – menu lengkap seperti menu di restaurant bintang 5. Saya bukan orang yang betah di dapur. Makanya masak makanan Indonesia boleh di bilang amat sangat jarang. Saya lebih cenderung masak pasta, atau apalah yang pasti, bukan masakan indonesia yang ribet,berantakan dan banyak bumbu dlsb dlsb (saya kan selalu berusaha pake bumbu pres dan bukan dari kantong plastik).

Biar sering di bilang udah jago masak, bukan berarti – tiap kali masak – saya selalu berhasil. Banyak juga gagalnya. Rasanya tidak keruan. amburadul,tidak cocok dengan hasil foto di buku/telivisi/internet/masakan Bunda. Dum di dum di dum. Okay, itu kecelakaan. Bukan berarti saya nggak bisa masak kan?😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: